SMF 2026: Menjembatani Kebijaksanaan Korea dan Bali dalam Harmoni Lintas Budaya

Pada tanggal 7–11 Februari 2026, Korean Center Indonesia menerima kunjungan istimewa dari tiga tamu senior asal Korea dalam rangka kegiatan Senior Momentum Forum (SMF). Forum ini menjadi bagian dari perjalanan survei dan riset mereka mengenai praktik dan filosofi agama Hindu di Bali. Selama lima hari, para tamu tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga berdialog langsung dengan para akademisi dan tokoh masyarakat untuk memahami kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Bali secara lebih mendalam.

Kunjungan ini bukan sekadar studi akademik, melainkan pertemuan antar generasi dan antar budaya—membuka ruang percakapan yang hangat tentang kehidupan, iman, komunitas, dan makna spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.

Table Talk di IPBI: Percakapan Mendalam tentang Spiritualitas dan Kehidupan

Puncak kegiatan SMF berlangsung pada 9 Februari 2026 di IPBI melalui sesi table talk bertema:

“Cross-Cultural Insight Workshop: Conversations between Korean and Balinese Elders – Exploring Life, Faith, and the Spirit of Bali.”

Diskusi ini menghadirkan tiga profesor sebagai narasumber:

- Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A. - Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A - Prof. I Nyoman Sedeng

Dalam suasana yang intim dan penuh rasa hormat, para peserta berdiskusi mengenai nilai-nilai kehidupan yang membentuk masyarakat Bali, sekaligus menemukan titik temu dengan budaya Korea.

Part 1 – The Spirit: Memahami “Mengapa” di Balik Ritual Bali

Sesi pertama membahas dimensi spiritual masyarakat Bali melalui filosofi Tri Hita Karana, yaitu harmoni antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan).

Para profesor menjelaskan bahwa sesajen harian seperti canang sari dan mesaiban bukanlah simbol formalitas atau tradisi kosong. Ia adalah bentuk rasa syukur dan kesadaran bahwa hidup adalah relasi. Setiap persembahan kecil yang diletakkan di rumah, pura, bahkan di depan toko, merupakan cara menjaga keseimbangan energi dalam kehidupan.

Konsep lain seperti Tri Mandala (pembagian ruang sakral), Tri Kaya Parisudha (kesucian pikiran, ucapan, dan perbuatan), serta pemahaman kosmologis tentang Gunung Agung sebagai poros spiritual, memperlihatkan bagaimana agama di Bali tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari—ia menyatu dalam arsitektur, rutinitas, dan cara berpikir masyarakat.

Part 2 – The Rhythm: Ritme Kehidupan dalam Siklus dan Komunitas

Sesi kedua mengangkat bagaimana masyarakat Bali menjalani siklus kehidupan melalui berbagai tahapan Manusa Yadnya—mulai dari kelahiran, nelu bulanin (105 hari), otonan (ulang tahun spiritual 210 hari), metatah (ritual pengendalian diri), pernikahan, hingga ngaben.

Ritme kehidupan ini tidak berjalan secara individual. Sistem banjar menjadi fondasi sosial yang menjaga keseimbangan antara tanggung jawab adat dan administrasi. Setiap pasangan yang menikah menjadi bagian dari komunitas, ikut serta dalam kegiatan sosial, gotong royong, dan upacara adat.

Dalam diskusi ini, para tamu Korea melihat kesamaan dengan budaya kolektif di Korea, seperti semangat kerja bersama dan solidaritas komunitas. Percakapan berkembang menjadi refleksi tentang bagaimana masyarakat modern tetap dapat mempertahankan nilai kebersamaan di tengah perubahan zaman.

Part 3 – The Connection: Kebijaksanaan yang Menghubungkan Dua Budaya

Bagian ketiga menjadi ruang refleksi bersama tentang nilai universal. Konsep Tat Twam Asi (“Aku adalah engkau”) dan Vasudhaiva Kutumbakam (“Kita semua adalah satu keluarga”) menjadi jembatan pemahaman lintas budaya.

Semangat ngayah (kerja sukarela di pura) dan nguopin (saling membantu dalam persiapan upacara) memperlihatkan bahwa solidaritas bukan hanya nilai sosial, tetapi juga nilai spiritual.

Diskusi semakin mendalam ketika membahas makna kematian dalam filosofi Hindu Bali. Kematian dipandang bukan sebagai akhir, melainkan proses kembali kepada Tuhan melalui siklus samsara, dengan tujuan akhir mencapai moksa. Tahapan hidup—Brahmacari, Grahasta, Wanaprastha, dan Sanyasin—memberikan panduan bagaimana manusia mempersiapkan “kematian yang baik” dengan menjalani hidup yang seimbang dan bermakna.

Mengakhiri Diskusi dengan Kebersamaan

Setelah sesi table talk selesai, para profesor dan tamu Korea melanjutkan kebersamaan dalam makan siang di Warung Ongan Asri. Momen ini menjadi ruang informal untuk mempererat hubungan, di mana percakapan akademik berlanjut dalam suasana santai.

Kunjungan Lapangan: Melihat Kehidupan Nyata

Keesokan harinya, didampingi oleh Mr. Park, para tamu melanjutkan kunjungan ke GKPB Jemaat “Betlehem” Untal-Untal untuk melihat kehidupan komunitas Kristen di Bali, serta ke Desa Pinge untuk memahami dinamika desa adat dan program-program masyarakat yang telah berjalan.

Kunjungan ini menunjukkan bahwa pemahaman lintas budaya tidak hanya dibangun melalui diskusi, tetapi juga melalui observasi langsung terhadap kehidupan masyarakat yang beragam namun tetap harmonis.

Refleksi SMF 2026

SMF 2026 menjadi lebih dari sekadar forum diskusi. Ia menjadi ruang perjumpaan dua budaya Asia yang sama-sama menjunjung tinggi nilai keluarga, penghormatan terhadap leluhur, dan kehidupan komunal.

Melalui percakapan para sesepuh Korea dan Bali, terlihat bahwa di balik perbedaan bahasa dan tradisi, terdapat nilai universal yang sama: keseimbangan, rasa hormat, solidaritas, dan pencarian makna hidup.

Forum ini membuktikan bahwa dialog lintas budaya bukan tentang mencari perbedaan, tetapi tentang menemukan kebijaksanaan yang saling melengkapi.


다음 이전